Manfaat Jambu Biji

Jambu Biji Harapan Untuk HIV
Menyantap buah yang satu ini memang butuh perjuangan tersendiri. Tak salah, karena buah ini banyak bijinya. Ya wajar saja, karena nama buah ini jambu biji, kalau tanpa biji tentu namanya bukan jambu biji.
Perjuangan dalam mengonsumsi jambu biji, sebenarnya bukanlah hal yang sia-sia, karena ternyata ada beragam khasiat yang dimiliki oleh tanaman ini. Tak hanya buahnya, daun dan batangnya pun bermanfaat. Bahkan menurut informasi terbaru, air seduhan daun jambu biji tengah diteliti secara intensif, karena diperkirakan punya potensi menghambat, bahkan membunuh virus penyakit demam berdarah dan HIV. Puluhan pakar dari sebuah Fakultas Kedokteran di Taipei beberapa tahun terakhir ini tengah berupaya mengembangkan senyawa aktif yang dapat menghambat perkembangan HIV. Ketua tim peneliti tersebut menyatakan, timnya telah menemukan senyawa flavonoid dari beberapa tanaman yang dapat menghambat perkembangan HIV. Salah satunya adalah jambu biji.
Di Cina dan Indonesia sendiri, jambu klutuk alias guajava, terutama daunnya, sudah sejak lama dikenal sebagai obat. Guajava biasanya digunakan untuk mengobati radang usus besar, mengatasi infeksi, mengobati diare dan disentri. Demikian pula tanaman ini digunakan untuk menghentikan perdarahan. Bahkan di pedesaan, tumbukan daun jambu biji lazim juga digunakan sebagai obat luka karena cidera, luka karena perdarahan, serta bisul-bisul.
Jambu biji memang diketahui memiliki sejumlah zat aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat, terutama daunnya. Menurut penelitian ia banyak mengandung minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, dan asam guaja vermin. Termasuk juga mengandung beberapa vitamin, terutama vitamin A, B, C dan beberapa mineral. Khusus daun jambu, diprediksi bisa mengandung hingga 9% eutenol, 3% damar, dan kalsium oksalat.
Sejumlah literatur yang membahas obat-obatan tradisional juga menyebutkan potensi obat tumbuhan jambu klutuk memang sangat lengkap. Bukan hanya daunnya yang kaya zat-zat penyembuh. Tapi juga buah, bunga, dan kulit batangnya.
Akar dan kulit batang jambu klutuk dapat digunakan sebagai decoct atau infusum, obat diare, atau gastroenteritis (radang selaput lendir lambung dan usus) terutama pada anak-anak. Selain itu, batangnya bisa juga digunakan sebagai obat sariawan. Bahkan di pedesaan, seduhan campuran daun jambu biji dengan daun sirih, seringkali dimanfaatkan untuk mencuci lubang senggama agar tidak gatal-gatal karena bakteri.

Kaya Vitamin C
Jambu Biji punya nama lain yang banyak, tergantung daerahnya. Ada yang menyebut jambu klutuk, bayawas, tetokal, tokal, jambu batu, dan jambu bender dan lain-lain. Tanaman yang punya nama latin Psidium guajava ini tersebar meluas sampai ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, sampai Asia Selatan, India dan Srilangka. Jambu biji termasuk tanaman perdu dan memiliki banyak cabang dan ranting; batang pohonnya keras. Permukaan kulit luar pohon jambu biji berwarna coklat dan licin. Apabila kulit kayu jambu biji tersebut dikelupas, akan terlihat permukaan batang kayunya basah. Bentuk daunnya umumnya bercorak bulat telur dengan ukuran yang agak besar. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan muncul dari balik ketiak daun. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai pada ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Pada umur 2-3 tahun jambu biji sudah mulai berbuah. Bijinya banyak dan terdapat pada daging buahnya.
Jambu biji sendiri sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Dia berasal dari kawasan tropis Amerika, kemudian menyebar antara lain ke Malaysia, India, Sri Lanka, Vietnam, Indonesia, dan kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini bisa tumbuh di berbagai tempat berbeda. Mulai dataran rendah (pantai) sampai dataran tinggi berketinggian 1.200 m di atas permukaan laut.
Dia juga dapat tumbuh di sembarang tempat. Banyak penduduk yang menanam tumbuhan ini sebagai tanaman pekarangan, tapi belum banyak yang membudidayakannya sebagai tanaman kebun. Pamornya seolah-olah masih kalah dengan keluarga jambu lainnya. Padahal, nilai ekonomis jambu klutuk tidak kalah dengan jambu air, misalnya. Jambu klutuk biasanya berbunga pada bulan September sampai Oktober, serta berbuah pada bulan Februari sampai Maret setiap tahunnya. Buah mudanya agak keras, tapi makin masak (berwarna kuning) makin lunak pula dagingnya. Bentuk buahnya ada yang bulat, ada pula yang lonjong. Sedangkan kulit buahnya tipis, sehingga orang jarang mengupasnya sebelum dimakan. Buah yang sudah masak bagian dalamnya berwarna merah atau kuning, berasa manis atau ada pula yang manis keasaman, karena banyak mengandung vitamin C.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: